Wednesday, February 1, 2017

Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad (Shohibur Ratib)




Assalamu'alaikum


Khusus buat teman teman yang ingin mengetahui kisah dari Shohibur Ratib yaitu Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad. dan langsung saja mari kita baca dengan seksama dan kita ambil semua hikmah yang terkandung didalamnya. Amin

Habib Abdullah dilahirkan ke dunia pada malam Kamis 5 Shafar 1044 H di pinggiran kota Tarim, sebuah kora terkenal di Hadramaut, Yaman. Beliau bermadzhab Syafi'i. Nasabnya bersambung sampai kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib, suami Fatimah bintu Rosulillah SAW


Ayahnya, Habib Alwi bin Muhammad adalah seorang yang saleh 
dari keturunan orang-orang saleh. Di masa mudanya, beliau 
berkunjung ke kediaman Habib Ahmad bin Muhammad Al-Habsyi 
Shôhibusy Syi‘ib untuk memohon doa, Habib Ahmad berkata, 
“Anak-anakmu adalah anak-anak kami juga, mereka diberkahi 
Allah.”

Saat itu Habib Alwi tidak mengerti maksud ucapan Habib Ahmad. 

Namun, setelah menikahi Salma, cucu dari Habib Ahmad 
bin Muhammad, Habib Alwi baru sadar bahwa rupanya perkawinan 
ini yang diisyaratkan oleh Habib Ahmad bin Muhammad dalam 
ucapannya.

Sebagaimana suaminya, Salma adalah seorang wanita yang sholihah. 

Dari istrinya ini, Habib Alwi mendapat putra-putri yang baik dan saleh, 
di antaranya adalah Abdullah.

Ketika Abdullah berusia 4 tahun, ia terserang penyakit cacar. 

Demikian hebat penyakit itu hingga butalah kedua matanya. Namun, 
musibah ini sama sekali tidak mengurangi kegigihannya dalam 
menuntut ilmu. Ia berhasil menghapal Quran dan menguasai berbagai 
ilmu agama ketika terhitung masih kanak-kanak. Rupanya Allah 
berkenan menggantikan penglihatan lahirnya dengan penglihatan 
batin, sehingga kemampuan menghapal dan daya pemahamannya 
sangat mengagumkan.

Abdullah sejak kecil gemar beribadah dan riyâdhoh. Nenek dan 

kedua orang tuanya seringkali tidak tega menyaksikan anaknya yang 
buta ini melakukan berbagai ibadah dan riyâdhoh. Mereka menasihati 
agar ia berhenti menyiksa diri. Demi menjaga perasaan keluarganya, 
si kecil Abdullah pun mengurangi ibadah dan riyâdhoh yang 
sesungguhnya amat ia gemari. Ia pun kini memiliki lebih banyak waktu 
untuk bermain-main dengan teman-teman sebayanya. “Subhânallôh, 
sungguh indah masa kanak-kanak…,” kenang beliau suatu hari.

Di kota Tarim, Abdullah tumbuh dewasa. Bekas-bekas cacar tidak 

tampak lagi di wajahnya. Beliau berperawakan tinggi, berdada bidang, 
berkulit putih, dan berwibawa. Tutur bahasanya menarik, sarat dengan 
mutiara ilmu dan nasihat berharga.

Beliau sangat gemar menuntut ilmu. Kegemarannya ini membuatnya 

sering melakukan perjalanan untuk menemui kaum ulama. 
Beliau ra berkata, “Apa kalian kira aku mencapai ini dengan santai? 
Tidak tahukah kalian bahwa aku berkeliling ke seluruh kota-kota 
(di Hadramaut) untuk menjumpai kaum sholihin, menuntut ilmu dan 
mengambil berkah dari mereka?”

Beliau juga sangat giat dalam mengajarkan ilmu dan mendidik 

murid-muridnya. Banyak penuntut ilmu datang untuk belajar kepadanya. 
Suatu hari beliau berkata, “Dahulu aku menuntut ilmu dari semua 
orang, kini semua orang menuntut ilmu dariku.”

“Andaikan penghuni zaman ini mau belajar dariku, tentu akan kutulis 

banyak buku mengenai makna ayat-ayat Quran. Namun, di hatiku 
ada beberapa ilmu yang tak kutemukan orang yang mau menimbanya.”

Habib Abdullah mengamati bahwa kemajuan zaman justru membuat 

orang-orang saleh menyembunyikan diri; membuat mereka lebih 
senang menyibukkan diri dengan Allah. “Zaman dahulu keadaannya baik. 
“Dagangan” kaum sholihin dibutuhkan masyarakat, oleh karena itu 
mereka menampakkan diri. Zaman ini telah rusak, masyarakat tidak 
membutuhkan “dagangan” mereka, karena itu mereka pun enggan 
menampakkan diri,” papar beliau.

Beliau sangat menyayangi kaum fakir miskin. “Andaikan aku kuasa 

dan mampu, tentu akan kupenuhi kebutuhan semua kaum fakir miskin. 
Sebab pada awalnya, agama ini ditegakkan oleh orang-orang 
mukmin yang lemah.”

Beliau juga berkata, “Dengan sesuap (makanan) tertolaklah 

berbagai bencana.”

Beliau gemar berdakwah, baik dengan lisan maupun tulisan, 

kemudian mencontohkannya dalam amal perbuatan. Kegemarannya 
berdakwah menyebabkan ia banyak bergaul dan melakukan perjalanan. 
“Sesungguhnya aku tidak ingin bercakap-cakap dengan masyarakat, 
aku juga tidak menyukai pembicaraan mereka, dan tidak peduli kepada 
siapa pun dari mereka. Sudah menjadi tabiat dan watakku bahwa aku 
tidak menyukai kemegahan dan kemasyhuran. Aku lebih suka 
berkelana di gurun Sahara. Itulah keinginanku; itulah yang kudambakan. 
Namun, aku menahan diri tidak melaksanakan keinginanku agar 
masyarakat dapat mengambil manfaat dariku.”

Keaktifannya dalam mendidik dan berdakwah membuatnya digelari 

Quthbud Da’wah wal Irsyâd. Beliau berkata, “Ajaklah orang awam 
kepada syariat dengan bahasa syariat; ajaklah ahli syariat kepada 
tarekat (thorîqoh) dengan bahasa tarekat; ajaklah ahli tarekat 
kepada hakikat (haqîqoh) dengan bahasa hakikat; ajaklah ahli 
hakikat kepada Al-Haq dengan bahasa Al-Haq, dan ajaklah 
ahlul haq kepada Al-Haq dengan bahasa Al-Haq.”

Dalam kehidupannya, beliau juga sering mendapat gangguan 

dari masyarakat lingkungannya. “Kebanyakan orang jika tertimpa 
musibah penyakit atau lainnya, mereka tabah dan sabar; sadar 
bahwa itu adalah qodho dan qodar Allah. Tetapi jika diganggu orang, 
mereka sangat marah. Mereka lupa, bahwa gangguan-ganguan 
itu sebenarnya juga merupakan qodho dan qodar Allah, mereka 
lupa bahwa sesungguhnya Allah hendak menguji dan 
menyucikan jiwa mereka. Nabi saw bersabda, 
“Besarnya pahala tergantung pada beratnya ujian. Jika Allah 
mencintai suatu kaum, Ia akan menguji mereka. Barang siapa 
ridho, ia akan memperoleh keridhoan-Nya; barang siapa tidak ridho, 
Allah akan murka kepadanya.”

Habib Abdullah mengetahui bahwa ada beberapa orang yang 

memakan hidangannya, tetapi juga memakinya. “Perbuatan 
mereka tidak mempengaruhi sikapku. Aku tidak marah kepada 
mereka, bahkan mereka kudoakan.”

Habib Abdullah tidak pernah menyakiti hati orang lain, 

apabila beliau terpaksa harus bersikap tegas, beliau kemudian 
segera menghibur dan memberikan hadiah kepada orang 
yang ditegurnya. “Aku tak pernah melewatkan pagi dan sore 
dalam keadaan benci atau iri pada seseorang,” 
kata Habib Abdullah.

Beliau lebih suka berpegang pada hadis Nabi saw:

 “Orang beriman yang bergaul dengan masyarakat dan 
sabar menanggung gangguannya, lebih baik daripada 
orang yang tidak bergaul dengan masyarakat dan 
tidak pula sabar menghadapi gangguannya.”

Beliau menulis dalam syairnya:

Bila Allah mengujimu, bersabarlah

karena itu hak-Nya atas dirimu.

Dan bila Ia memberimu nikmat, bersyukurlah.

Siapa pun mengenal dunia, pasti akan yakin

bahwa dunia tak syak lagi

adalah tempat kesengsaraan dan kesulitan.

Habib Abdullah tidak menyukai kemasyhuran atau 

kemegahan, beliau juga tidak suka dipuji. “Banyak 
orang membuat syair-syair untuk memujiku. Sesungguhnya 
aku hendak mencegah mereka, tetapi aku khawatir 
tidak ikhlas dalam berbuat demikian. Jadi, kubiarkan 
mereka berbuat sekehendaknya. Dalam hal ini 
aku lebih suka meneladani Nabi saw, karena beliau pun 
tidak melarang ketika sahabatnya membacakan 
syair-syair pujian kepadanya.”

Suatu hari beliau berkata kepada orang yang melantunkan 

qoshidah pujian untuk beliau, “Aku tidak keberatan dengan 
semua pujian ini. Yang ada padaku telah kucurahkan 
ke dalam samudra Muhammad saw. Sebab, beliau adalah 
sumber semua keutamaan, dan beliaulah yang berhak 
menerima semua pujian. Jadi, jika sepeninggal beliau ada 
manusia yang layak dipuji, maka sesungguhnya pujian 
itu kembali kepadanya. Adapun setan, ia adalah sumber 
segala keburukan dan kehinaan. Karena itu setiap kecaman 
dan celaan terhadap keburukan akan terpulang kepadanya, 
sebab setanlah penyebab pertama terjadinya keburukan 
dan kehinaan.”

Beliau tak pernah bergantung pada makhluk dan selalu 

mencukupkan diri hanya dengan Allah. “Dalam segala 
hal aku selalu mencukupkan diri dengan kemurahan dan 
karunia Allah. Aku selalu menerima nafkah dari khazanah 
kedermawanan-Nya.” Beliau juga berkata, “Aku tidak melihat 
ada yang benar-benar memberi, selain Allah. Jika ada 
seseorang memberiku sesuatu, kebaikannya itu tidak 
meninggikan kedudukannya di sisiku, karena aku 
menganggap orang itu hanyalah perantara saja.”


Mungkin itu saja yang dapat saya Share, kurang lebih nya mohon maaf 
dan semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisah beliau. trimakasih

Wasalamu'alaikum

No comments:

Post a Comment

Popular Posts